Tangisan Anak … T__T

Tangisan anak adalah suara musik alam yang indah.

Memang kalau mendengar suara bayi menangis berjam-jam maka akan menimbulkan rasa cemas dalam diri kita, tetapi kalau anak 2 tahun menangis berjam-jam tidak berhenti padahal segala cara sudah kita keluarkan untuk membujuknya, biasanya kejengkelan lingkunganlah yang akan muncul. Pada akhirnya cara kekerasan baik secara fisik maupun verbal berupa nada ancaman sering dicobakan untuk menjadi ’senjata pamungkas’.

The Terrible Two adalah julukan yang sering dilontarkan untuk si 2 tahun yang memang sudah mulai sering menentang dan banyak ulah. Negativistic & Tantrum yaitu bersikap negatif, semau gue, tidak mau diatur, keras kepala, di sisi lain suka merajuk, mudah mengamuk dan emosional memang merupakan ciri perkembangan si 2 tahun. Memang untuk perkembangan sampai usia 5 tahun, masa 2 tahun merupakan masa yang paling sulit, di mana sering terjadi suatu transisi dari anak yang manis menjadi anak yang penentang dan terlihat ‘nakal’ di mata lingkungannya. Masalahnya sebenarnya terletak pada orangtua, bagaimana trik-trik yang dimilikinya untuk ‘mengelola’ anak sehingga menjadi manis dan penurut kembali.

Menurut Hans Grothe, seorang psikolog perkembangan dari Jerman, sebenarnya tangisan dan teriakan tantrum anak ternyata tidak berkaitan dengan usia. Tak hanya si 2 tahun yang melakukannya, si 3 atau 5 tahun pun kadang-kadang masih melakukannya. Memang frekuensi yang terbanyak adalah pada si 2 tahun. Menurutnya ada 3 kunci untuk meredakan tangisan anak yaitu ketenangan, ketenangan dan ketenangan. Tentu saja dalam tiga tataran yang berbeda-beda. Dan kemampuan ini tidak begitu saja jatuh dari langit melainkan para orangtua harus melatih dan belajar melihat reaksi anak.

Menjadi orangtua sebenarnya seperti seorang peneliti di laboratorium. Mencoba sebuah formula pola asuh, memecahkan masalah sesuai dengan budayanya serta kemudian melihat reaksi yang terjadi dengan dicobakan formulanya. Apabila tidak cocok dan reaksi buruk maka harus dicobakan formula yang lain sampai cocok. Dan biasanya formula yang cocok untuk satu anak belum tentu cocok untuk anak yang lainnya. Jadi berlatih dan belajar menjadi peneliti adalah tugas orangtua agar sukses mendidik anak-anaknya. Beberapa formula ini silakan dicoba.

Tenang, Tenang dan Tenang

Kunci meredakan tangisan dan teriakan anak adalah bersikap tenang dan tidak perlu tergesa-gesa. Tidak perlu panik dan jengkel bila si 2 tahun meledak tangisnya. Orangtua yang nampak gelisah atau memendam kemarahan tentu akan sulit menerima kondisi si kecil yang juga sedang tidak nyaman dengan tangisannya sendiri. Anak membutuhkan figur yang tenang dan mampu mengendalikan emosinya ketika mendekati anak. Kontrol emosi Anda akan membuat suatu ruang toleransi apapun reaksi tambahan yang akan dikeluarkan anak. Latihan bagi para orangtua untuk mencapai ketenangan adalah dengan pernafasan perut, minum segelas air putih, mencuci muka dan yang penting empati pada keadaan anak bahwa kita harus membantunya keluar dari tangisan dan situasi yang sedang tidak mampu dikendalikannya.

Sentuhan

Bagi anak, ketenangan dapat dicapai dengan mudah melalui suatu sentuhan. Jadi apabila Anda tenang dan siap menghadapi si 2 tahun tanpa bersikap emosional, belaian pada rambut usapan pada punggung, memeluknya ke pangkuan atau menggedongnya ke tempat yang lebih tenang, akan menenangkannya segera.

Meskipun demikian kalau tangisan menghantam emosinya begitu kuat terhadang sentuhan justru mengganggunya dan membuatnya marah, tentu jangan memaksa. Biarkan kemarahannya reda terlebih dalu, berikan waktu anak meredakan emosi dan kemarahan serta ketidaknyamanan yang dirasakannya. Lalu pelan-pelan dan setahap demi setahap dekati dan tunjukkan ketenangan dan sentuhan Anda.

Alihkan Perhatian dan Bersikap ”Tuli”

Sekali lagi perlu diingat 2 tahun adalah masa sulit, dan penuh tantangan. Terkadang anak begitu sukar dikendalikan, bahkan menolak untuk disentuh atau diberi perhatian. Sekali lagi jangan memaksakan diri. Cara yang jitu menurut banyak ahli perkembangan anak adalah bersikap ”tuli” pada tangisannya dan mengalihkan perhatian kita agar tidak terganggu dengan tangisannya. Misalnya pura-pura ke dapur untuk memasak, memperhatikan burung yang terbang atau mengomentari mobil yang lewat. Untuk itu diperlukan kecepatan berpikir dan improvisasi kita. Biasanya anak akan terpengaruh dan melupakan tangisannya karena tertarik dengan hal baru di sekitarnya. Selamat melatih diri untuk menjadi orangtua yang tenang, tenang, dan tenang…!

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: